Makna Sila Ke 1

7 min read

Makna Sila Ke 1

Kali ini dosenku.co.id akan membahas tentang makna sila ke 1 marilah kita simak bareng – bareng pembahasannya di bawah ini.

Sedangkan pada pembahasan sebelumnya dosenku.co.id telah membahas artikel yang berjudul Rumusan Pancasila Dalam Pembukaan UUD 1945.

Pengertian Makna Sila Ke 1

Makna Sila Ke 1
Makna Sila Ke 1

Kata dari ketuhanan yang berasal dari kata tuhan yang di beri imbuhan berupa awalan ke – dan akhiran -an. Penggunaan awalan ke – dan akhiran – an pada satu kata dapat merubah arti dari kata tersebut dan membentuk suatu arti yang baru. Penambahan awalan ke – dan akhiran – an dapat memberikan suatu arti yang merubah untuk menjadi antara lain sebagai berikut dibawah ini :

Kata ketuhanan yang berasal dari kata tuhan ialah yang diberikan imbuhan ke – dan – an yang artinya sifat – sifat tuhan.

Dengan kata lain ketuhanan yang berarti sifat – sifat tuhan ataupun sifat – sifat yang berhubungan dengan tuhan.

Kata Maha yang berasal dari bahasa Sansekerta maupun Pali yang bisa artinya mulia ataupun besar (bukan dari dalam pengertian bentuk). Kata Maha bukan berarti sangat.

Kata Esa ini juga berasal dari bahasa Sansekerta maupun Pali. Kata Esa ini bukan berarti satu ataupun tunggal didalam jumlah.

Kata Esa yang berasal dari kata Etad yang lebih mengacu kepada pengertian yang keberadaannya yang mutlak atau yang mengacu pada kata ini (this – Inggris).

Sedangkan kata Satu didalam pengertian jumlah dalam bahasa Sansekerta maupun bahasa Pali ialah kata dari Eka.

Jika yang dimaksud didalam sila yang pertama ialah merupakan jumlah Tuhan yang satu, maka kata yang seharusnya digunakan ialah Eka bukan kata Esa.

Dari penjelasan yang telah disampaikan di atas tadi dapat disimpulkan bahwa arti dari Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah yang artinya tuhan itu yang satu, bukan mengacu pada suatu individual yang kita sebut Tuhan Yang jumlahnya satu.

Akan tetapi yang sesungguhnya Ketuhanan Yang Maha Esa yang berarti  Sifat – Sifat yang luhur ataupun mulia Tuhan yang harus mutlak ada.

Jadi yang ditekankan kepada sila yang pertama dari Pancasila tersebut ialah merupakan sifat – sifat yang luhur ataupun mulia, bukan Tuhannya.

Arti Makna Sila Ke 1

Sila yang pertama dari Pancasila Dasar Negara NKRI ialah Ketuhanan Yang Maha Esa. Kalimat pada sila yang pertama ini ialah tidak menggunakan kata istilah didalam bahasa Sansekerta maupun bahasa Pali.

Banyak diantara kita yang salah paham dengan mengartikan makna dari sila pertama ini. Baik dari sekolah dasar sampai sekolah menengah, umumnya kita diajarkan bahwa arti dari Ketuhanan Yang Maha Esa ialah tuhan Yang Satu, atau juga tuhan yang jumlahnya satu.

Jika kita membahasnya didalam bahasa Sansekerta maupun Pali, Ketuhanan Yang Maha Esa bukanlah tuhan yang maknanya satu.

Baca Juga : Prinsip Demokrasi Pancasila

Makna Sila Ke 1 Ketuhanan YME

Makna pada sila pertama ini ialah sebagai berikut dibawah ini :

  • (1) Percayalah dan bertaqwalah kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agamanya dan kepercayaannya masing – masing dengan menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  • (2) Saling hormat dan menghormati dan juga saling bekerjasama antara pemeluk agama dan para penganut – penganut kepercayaannya yang berbeda – beda sampai terbina didalam kerukunan hidupnya.
  • (3) Saling menghormati dan juga kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya dan kepercayaannya masing – masing.
  • (4) Tidak harus memaksakan salah satu agama atau kepercayaannya kepada orang lain.
  • (5) Frasa Ketuhanan Yang Maha Esa ialah bukan artinya dari warga Indonesia yang harus memiliki agama monoteis namun frasa ini juga memiliki menekankan ke esaan didalam beragama.
  • (6) Mengandung suatu makna yang adanya Causa Prima sebab pertama ialah Tuhan Yang Maha Esa.
  • (7) Untuk menjamin penduduk agar penduduk memeluk agamanya masing – masing dan beribadah menurut agamanya masing – masing.
  • (8) Negara memberikan sebuah fasilitas agar tumbuh kembangnya agama dan dan imannya warga negara dan mediator saat akan terjadinya suatu konflik agama.
  • (9) Bertoleransi didalam beragama, dan dalam hal ini toleransi ditekankan didalam beribadah menurut agamanya masing – masing.
Baca Juga :  Rumusan Pancasila Dalam Pembukaan UUD 1945

Manusia ialah sebagai makhluk yang ada di dunia ini seperti halnya makhluk lain yang diciptakan oleh penciptaannya.

Pencipta itu ialah Causa Prima yang mempunyai suatu hubungan dengan yang diciptakannya. Setiap makhluk yang diciptakannya wajib untuk menjalankan semua yang di perintahkan oleh Tuhan dan menjauhi semua yang dilarangannya.

Didalam konteks bernegara, maka didalam masyarakat yang berdasarkan Pancasila, dengan sendirinya dijamin kebebasannya untuk memeluk agamanya masing – masing.

Sehubungan dengan agama itu diperintahkan dari Tuhan dan merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan oleh setiap manusia dan sebagai makhluk yang ciptakannya oleh Tuhan.

Maka dari itu untuk menjamin suatu kebebasan tersebut di dalam alam Pancasila seperti yang kita alami sekarang ini tidak ada pemaksaan untuk beragama, ataupun orang – orang yang memeluk agama dalam suasana yang bebas dan juga mandiri.

Maka dari itu didalam masyarakat Pancasila dengan sendirinya agama dijamin untuk berkembang dan tumbuh subur dan juga konsekuensinya diwajibkan untuk adanya toleransi beragama.

Baca Juga : Pemberontakan PRRI

Jika dilihat secara historis, memang pemahaman ini untuk kekuatan yang ada di luar diri manusia dan juga yang ada di luar alam ini atau dengan adanya sesuatu yang bersifat adikodrati (di atas / di luar kodrat) dan yang transeden (untuk mengatasi segala sesuatu) sudah dipahami oleh bangsa Indonesia sejak dulu.

Sejak pada jaman nenek moyang memang sudah dikenal oleh paham animisme, dinanisme, sampai paham politheisme.

Dan kekuatan ini terus – menerus berkembang di dunia ini sampai masuknya agama – agama Hindu, Budha, Islam dan juga nasrani ke Indonesia, sehingga kesadaran akan monotheisme di masyarakat Indonesia semakin kuat.

Maka dari itu tepatlah, jika rumusan pada sila pertama Pancasila ialah Ketuhanan Yang Maha Esa.

Keberadaan Tuhan tidak, karena sebabnya oleh keberadaban pada makhluk hidup dan pada siapapun, sedangkan pada sebaliknya keberadaan dari makhluk dan siapapun justru disebabkan oleh adanya kehendak dari Tuhan.

Karena Tuhan itu ialah merupakan Prima Causa yaitu sebagai penyebab yang pertama dan yang paling utama atas timbulnya sebab – sebab yang lain.

Dengan demikian Ketuhanan Yang Maha Esa ini juga mengandung sebuah makna yang dengan adanya keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu Tunggal, yang menciptakan suatu alam semesta beserta isinya.

Dan diantara makhluk – makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berkaitan dengan sila ini ialah yang berkaitan dengan manusia.

Sebagai Maha yang Pencipta, kekuasaan Tuhan tidaklah terbatas, sedangkan setelah itu ialah terbatas.

Baca Juga :  Makna Sila Ke 4

Negara Indonesia didirikan oleh landasan moral yang luhur, yaitu dengan berdasarkan ketahuan yang maha esa dan sebagai konsekuensinya, maka negara menjamin kepada warga negara dan penduduknya untuk memeluk dan untuk beribadah sesuai dengan agamanya dan kepercayaannya masing – masing, seperti pengertiannya yang terkandung didalam :

(1) Pembukaan UUD pada tahun 1945 alinea ketiga, antara lain yang berbunyi sebagai berikut dibawah ini :

“Atas berkat dan rahmat dari Allah Swt Yang Maha Kuasa” dari bunyi kalimat diatas tadi membuktikan bahwa negara Indonesia ini bukan negara agama, yaitu negara yang didirikan oleh landasan agama yang tertentu, melainkan sebagai negara – negara yang didirikan atas landasan Pancasila atau negara Pancasila.

(2) Pada Pasal 29 UUD 1945 yaitu sebagai berikut dibawah ini :

  • (1) Negara ini berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.
  • (2) Negara ini menjamin untuk kemerdekaan tiap – tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing – masing  dan untuk beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya masing – masing.

Maka dari itu di dalam negara Indonesia tidak boleh ada pertentangan didalam hal Ketuhanan Yang Maha Esa, dan bersikap atau perbuatannya yang anti terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa yang anti agama.

Sedangkan sebaliknya dengan adanya paham Ketuhanan Yang Maha Esa ini hendaknya akan diwujudkan kerukunan hidup untuk beragama, kehidupan yang penuh toleransi didalam batas – batasan yang diizinkan atau menurut tuntutan agamanya masing – masing, agar terwujudnya suatu ketentraman dan kesejukan di dalam kehidupan untuk beragama .

Faktor Makna Sila Ke 1

Senantiasa untuk memelihara dan mewujudkan 3 faktor perekat kesatuan bangsa, yang meliputi :

  • Suatu bentuk kerukunan hidup antar umat seagamanya.
  • Suatu bentuk Kerukunan hidup antar umat seagamanya.
  • Suatu bentuk kerukunan hidup antar umat yang beragama dan Pemerintahnya.

Di dalam memahami sila ke 1 Ketuhanan Yang Maha Esa ini, hendaknya para pemeluk agama senantiasa berperan di depan, untuk menganjurkan kepada pemeluk agamanya masing – masing untuk menaati norma – norma di kehidupan beragama yang dianutnya.

Sila ke 1 Ketuhanan Yang Maha Esa ini menjadikan suatu sumber utama pada nilai – nilai di kehidupan bangsa Indonesia, yang menjiwai dan mendasari dan juga untuk membimbing suatu perwujudan dan Sila ke 2 sampai dengan Sila ke 5.

Pokok – Pokok Makna Sila ke 1

(1) Pernyataan untuk pengakuan bangsa Indonesia pada adanya dan kekuasaannya Tuhan Yang Maha Esa.

Pernyataan ini tidak dapat dibaca didalam Pembukaan UUD 1945, yang mana perumusan Pancasila itu terdapat di tepi dan dijabarkan lagi didalam tubuh UUD 1945 itu sendiri pada pasal 29 ayat 1, yang berbunyi sebagai berikut dibawah ini :

“Negara ini berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa”

Dengan adanya pernyataan untuk pengakuan dasar dari Ketuhanan Yang Maha Esa secara yuridis constitutional ini, diwajibkan oleh pemerintah / aparat negara dan untuk memelihara budi pekerti kemanusiaan yang luhur dan juga untuk memegang teguh pada cita – cita moral rakyat yang luhur.

Dengan demikian dasar ini merupakan suatu kunci dari sebuah keberhasilan bangsa Indonesia untuk menuju kepada apa yang benar maupun yang baik dan adil.

Dasar ini merupakan pengikat moril bagi pemerintah didalam menyelenggarakannya tugas – tugas negara, seperti memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta untuk melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Baca Juga :  Ideologi Pancasila

(2) Negara ini menjaminkan untuk kemerdekaan disetiap penduduk untuk beribadah.

menurut agama dan kepercayaannya masing – masing pada pasal 29 ayat 2 UUD tahun 1945.

Jaminan kemerdekaan yang beragama yang secara yuridis constitutional ini membawa untuk konsekuensi pemerintah sebagai berikut dibawa ini :

  • Pemerintah wajib untuk memberikan suatu dorongan dan kesempatan terhadap kehidupan dan keagamaan yang sehat.
  • Pemerintah wajib memberikan suatu perlindungan dan jaminan bagi usaha – usaha untuk penyebaran agama, baik penyebaran agama didalam arti kwalitatif maupun kwantitatif.
  • Pemerintah wajib untuk melarang adanya paksaan memeluk / meninggalkan suatu agama.
  • Pemerintah wajib melarang suatu kebebasan agar tidak memilih agama.

Pengakuan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, didalam kehidupan beragama bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan sila – sila yang lainnya.

Maka dari itu kehidupan beragama harus dapat membawa suatu persatuan dan kesatuan bangsa, harus dapat mewujudkan nilai – nilai dan kemanusiaan yang adil dan beradap, harus dapat menyehatkan suatu pertumbuhan demokrasi, sehingga bisa membawa seluruh rakyat Indonesia menuju suatu terwujudnya keadilan dan kemakmuran lahir maupun batin.

Dalam hal ini yang artinya bahwa sila pertama ini memberi suatu pancaran keagamaan dan memberikan suatu bimbingan pada pelaksanaan sila – sila yang lainnya.

(3) Sebagai suatu sarana untuk mewujudkan kesatuan dan persatuan bangsa, maka kebebasan asas untuk memeluk agama ini harus diikuti dengan asas toleransi antar pemeluk agama, saling menghargai dan menghormati antara pemeluk agama yang satu dengan pemeluk agama yang lainnya didalam menjalankan ibadah menurut agamanya mereka masing – masing.

(4) Didalam kehidupan beragama tidak bisa dipisahkan sama sekali dari kehidupan duniawinya dan kemasyarakatan.

Dua – duanya merupakan salah satu sistem yang sebagaimana satunya jiwa dan raganya didalam kehidupan manusia.

Agama ialah merupakan sebagai alat untuk mengatur di kehidupan dunia, sehingga dapat mencapai suatu kehidupan akhirat yang baik.

Kehidupan beragama tidak bisa lepas dari pembangunan masyarakat itu sendiri, bangsa dan negara demi terwujudnya keadilan dan kemakmuran suatu materiil maupun spiritual bagi rakyat Indonesia.

Semakin kuat keyakinannya didalam agama, semakin besar juag kesadarannya untuk bertanggung jawab kepada Tuhan bangsa dan Negara, semakin besar pula kemungkinannya akan terwujudnya suatu kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan bagi bangsa itu sendiri.

Pengamalan Makna Sila Ke 1

Dibawah ini contoh pengamalan dari makna sila ke 1, antara lain :

  • Bahwasannya kita harus percaya dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa menurut agama dan kepercayaannya masing – masing.
  • Bahwasannya kita harus melaksanakan suatu kepercayaan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa itu menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradap.
  • Bahwasannya kita harus membina dengan adanya saling menghormati antar pemeluk agama dan penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Bahwasannya kita harus membina ddengan adanya saling kerjasama dan toleransi antara sesama pemeluk agama dan penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  • Bahwasanya kita harus mengakui bahwa hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa itu sebagai hak pribadi yang paling hakiki.
  • Bahwasannya kita harus mengakui tiap warga negara bebas untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannnya masing – masing.
  • Kita tidak memaksakan agama dan kepercayaan kita kepada orang lain.

Demikianlah yang dapat dosenku.co.id sampaikan pada artikel kali ini, mohon maaf apabila ada kesalahan kata didalam artikel ini, semoga dapat bermanfaat untuk kalian semuanya.

Makna Sila Ke 4

dosenku
3 min read

Makna Sila Ke 2

dosenku
4 min read